Bersama Hadroh Sabilsunnajah, Almira Azzahra Asni menunjukan kepiawaiannya dalam memainkan Darbuka dalam peringatan malam Nuzunul Qur’an atau malam 21 ( Selikuran ) di masjid Al Muawwanah Pangean Majegan
Lintasklaten.com – KLATEN – Peringatan Malam Nuzunul Qur’an atau yang dikenal dengan sebutan “Malam Selikuran” (Malam 21) di Masjid Almuawwanah Dukuh Pangean, Desa Majegan, Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten, berlangsung sederhana namun penuh khidmat. Suasana hangat dan kebersamaan meriahkan kegiatan yang digelar pada Selasa malam (10/3/2026).
Acara dihadiri oleh berbagai unsur masyarakat, antara lain para alim ulama, kyai, tokoh masyarakat, Ketua RT Dukuh Pangen Murjoko, Takmir Masjid Dukuh Pangen Agus Suryono, serta ratusan warga masyarakat yang datang dari berbagai penjuru Dukuh Pangean dan sekitarnya.

Malam Selikuran merupakan puncak malam khataman Al-Qur’an bagi jamaah Masjid Almuawwanah. Selain khataman, rangkaian acara juga diisi dengan kegiatan tahlil serta kajian Islam yang mengangkat tema penting tentang pentingnya meningkatkan kualitas iman dan ketakwaan kepada Allah SWT di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.
Penampilan grup Hadroh Sabilunnajah menjadi pembuka acara yang penuh semangat. Gema sholawat dan puji-pujian mengalun merdu, menghangatkan suasana malam tersebut. Kekompakan antar anggota Hadroh Sabilunnajah terlihat jelas dalam setiap irama dan lagu yang mereka bawakan. Tahun ini menjadi tahun kedua bagi Hadroh Sabilunnajah untuk menghiasi acara Malam Selikuran, setelah sukses tampil pada tahun sebelumnya.
Namun, ada satu hal yang membuat penampilan Hadroh Sabilunnajah berbeda dari tahun lalu perhatian banyak orang tertuju pada sosok gadis belia yang dengan mahir memainkan alat musik darbuka. Darbuka sendiri merupakan alat musik tradisional dari Timur Tengah yang berbentuk seperti cangkir dengan satu membran, populer digunakan dalam musik Hadroh, Marawis, dan Gambus.

Almira Azzahra Asni atau lebih akrab di sapa Zahra gadis berbakat dari Dusun Pangean, bersama Hadroh Sabilunnajah tampil sangat energik dan mengesankan. Irama darbuka yang dimainkannya dengan piawai mengiringi setiap lagu religi dan sholawat yang dilantunkan oleh grup tersebut. Kepiawaian Zahra dalam memainkan alat musik yang biasanya lebih banyak dimainkan oleh laki-laki ini membuktikan bahwa Hadroh Sabilunnajah terus berupaya berkembang dengan selalu berlatih dan belajar untuk menjadi lebih baik.
Zahra merupakan putri tunggal dari pasangan Setyono dan Friska, warga asli Dukuh Pangean Majegan. Saat ini ia sedang menempuh pendidikan di MTs Negeri 7 Jatinom kelas 7 dalam Program Unggulan, yang khusus diperuntukkan bagi siswa berprestasi.
Hadirnya Hadroh Sabilunnajah dan penampilan menakjubkan Zahra menjadi bukti bahwa siapapun dapat mengembangkan bakatnya selama mau konsisten berlatih dan belajar. Zahra sendiri merupakan salah satu contoh potensi bakat baru yang dimiliki oleh anak-anak di Dukuh Pangean.
Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa saat ini banyak anak-anak yang cenderung lebih banyak menghabiskan waktu dengan gadget atau handphone secara berlebihan, sehingga membuat mereka kurang termotivasi untuk mencari dan mengembangkan bakat diri mereka sendiri.

Hadirnya grup Hadroh Sabilunnajah diharapkan dapat menjadi wadah kegiatan positif bagi warga Dukuh Pangean, khususnya anak-anak muda. Selain sebagai sarana untuk menjaring dan mengasah bakat baru, grup ini juga bertujuan untuk mengajak anak-anak untuk lebih sering bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW serta mengurangi kecanduan bermain handphone yang jika tidak dikontrol akan berdampak negatif bagi perkembangan mereka.
Zahra menjadi salah satu contoh kelebihan yang dimiliki oleh anak-anak di Dukuh Pangean. Masih banyak anak-anak di daerah tersebut yang memiliki potensi dan bakat positif yang perlu ditemukan dan diasah dengan wadah yang tepat.
Hal ini menjadi tugas bersama bagi seluruh warga masyarakat Dukuh Pangean untuk terus membangun daerah ini menjadi lebih maju dan berkembang melalui pengembangan bakat dan potensi generasi muda.
Lintasklaten.com (Pusoko)







